SMS Center: 0822 112 77777         Phone: +85512 9968 55         PIN BB : 26FEF2B8
Judi Bola – YM

Nama: (wajib di isi)

Email: (wajib di isi)

Telepon / HP:

Telepon / HP:

Pemilik Rek:

No. Rek:

Referensi:

Produk:

Note:

Masukkan Captcha:
captcha

Liga Indonesia

Berita liga Indonesia

1 2 3 5

Diancam Seseorang, Pesepakbola Ini Curhat Ke Polisi di Bandung

VIVAbola – Pemain sepakbola, Marcio Souza, mengadu ke Polrestabes Bandung atas ancaman yang disampaikan oleh seorang manager. Dengan didampingi istrinya, Rahmi Hafidania, Marcio menjelaskan ancaman pembunuhan diterima lewat pesan singkat (SMS) pada tanggal 22 dan 23 Oktober 2013.”SMS-nya ngancam akan dibunuh dan akan dibuat cacat sampai tidak bisa bermain sepakbola,” kata Marcio saat ditemui usai pelaporan ke Mapolrestabes Bandung, Selasa 29 Oktober 2013.

Marcio mengatakan, sebelum mendapatkan ancaman itu, dia sempat menagih janji soal gaji. Selain itu, pria asal Brasil tersebut juga dituduh telah menerima uang suap sebesar Rp250 juta dari pihak lain agar bermain jelek.

“Saya menagih karena itu hak saya. Saya terkatung-katung tidak jelas, kasihan keluarga saya di Brasil dan istri saya ini,” jelas Marcio.

“Untuk biaya hidup, saya menjual mobil. Tidak benar kalau saya menerima uang suap,” sambung dia.

Merasa tidak betah dengan situasi ini, dia akhirnya memutuskan untuk melaporkan masalah yang dialaminya ke polisi.

Polrestabes Bandung menyarankan Marcio melaporkan masalahnya ke Mabes Polri. “Kata Polisi, bukti-bukti yang saya pegang sudah kuat. Saya akan segera ke Mabes Polri untuk meminta perlindungan tentang masalah saya,” tegas Marcio.

Source: http://www.vivanews.com

Laga Semen Padang Kontra Juara Playoff Batal

Source: http://www.vivanews.com

Emas di Tengah Gulita Sepak Bola Indonesia

GENERASI emas yang hilang itu telah datang kembali. Ibu Kota Jakarta bernyanyi-nyanyi, Indonesia kemudian tertawa sambil menari-nari. Begitu juga dengan hiruk pikuk suporter dan 22 anak bangsa yang larut dalam kesenangan di bawah atap Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Di berbagai pelosok Indonesia, waktu seakan berputar kembali menuju puluhan tahun lalu. Gambar-gambar Evan Dimas dan kawan-kawan muncul di mana-mana. Wajah mereka kemudian terpampang di seluruh halaman depan surat kabar nasional. Sama seperti ketika Indonesia sukses menjelma menjadi Macan Asia yang fenomenal.

“Sekarang kalian semua bisa menikmati kemenangan ini.” Begitu kata pelatih Indra Sjafri seusai membawa timnas U-19 mengalahkan juara bertahan Korea Selatan 3-2 dalam lanjutan kualifikasi Grup G Piala Asia U-19 di SUGBK pada Sabtu (12/10/2013).

Kemenangan itu membawa Indonesia kembali berkesempatan untuk mendulang prestasi yang telah lama mati suri. Setelah sukses meraih gelar Piala AFF U-19 2013, Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia dengan status juara grup dan tidak terkalahkan dari tiga pertandingan yang dilakoninya.

Meskipun ketika itu lawannya adalah Korsel, yang berstatus salah satu raksasa Asia, timnas U-19 tidak gentar. Mereka tetap berusaha untuk berjuang sekuat tenaga dengan diiringi doa ratusan juta rakyat yang masih haus akan prestasi sepak bola. Di mata mereka, semua lawan sama. Di hati mereka, tertanam keinginan teguh untuk menghidupkan kembali gairah penikmat sepak bola Indonesia.
   
EmasPukul 19.15 malam, dengan hati berdebar, sorotan mata Evan Dimas dan kawan-kawan menatap tajam ke arah lapangan. Maklum, meski tuan rumah, Indonesia memang bukan lagi raksasa Asia. Namun, tapak kaki mereka satu per satu tetap melangkah gagah menyusuri lorong pemain dengan diiringi gegap gempita dukungan dari puluhan ribu suporter Indonesia yang sudah memadati SUGBK.

Dua tim kemudian berbaris di dalam lapangan. Lagu nasional Korsel menggema lebih dulu. Giliran Indonesia, seluruh suporter tampak bersemangat menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Di tengah tribun, berkibar bendera Merah Putih raksasa. Para pemain pun dengan khidmat menyanyikan lagu sambil meletakkan tangan di dada.

Begitu peluit dibunyikan wasit Mohammad Amirul Izwan asal Malaysia, para pemain Indonesia seakan menunjukkan kemampuan tersembunyinya. Gebrakan para penggawa skuad Garuda Jaya membuat permainan Korsel sempat dilanda ketegangan, dan Indonesia terlihat sukses membuat sang juara bertahan turun satu kelas.

Menit ke-30, gol! Bukan ke gawang Indonesia, tapi kiper Lee Tae-hui-lah yang merana. Si pencetak gol, Evan Dimas, kemudian berlari gembira ke pojok lapangan sembari mengucapkan syukur di tengah derasnya hujan yang mengguyur Jakarta. Pertandingan semakin sengit di saat Korsel mampu menyamakan kedudukan lewat penalti Seol Tae-su satu menit setelahnya.

Guyuran hujan kemudian seakan membawa berkah bagi para pemain timnas U-19 ketika umpan tarik Maldini Pali diteruskan dengan aksi Evan Dimas yang menendang bola masuk ke gawang Korsel, 2-1 untuk Indonesia di menit ke-49. Euforia tercipta di 10 menit tersisa karena torehan ketiga Evan Dimas serta gol balasan dari Hu Meong-hwon membuat papan skor raksasa di SUGBK terpampang skor 3-2 untuk Indonesia.

Begitu peluit panjang wasit dibunyikan, para pemain Korsel terpana. Penggawa Garuda Jaya berpesta. Rasa haru pun pecah bersamaan dengan histeria puluhan ribu suporter dan jutaan penonton televisi nasional di seluruh pelosok negeri yang tumpah ruah setelah melihat perjuangan para talenta emas sepak bola Indonesia.

GulitaDi malam itu, perjuangan timnas U-19 kembali membuktikan kepada kita bahwa jutaan anak bangsa dari Sabang hingga Merauke mempunyai potensi dan semangat besar dalam urusan mengangkat harkat martabat negara melalui sepak bola. Potensi yang selama ini terpendam karena berbagai masalah yang menerpa sepak bola Indonesia.

Pertanyaan besar kini, bagaimana nasib para pemain muda timnas U-19 setelah meraih kesuksesan itu? Jangan buru-buru terbuai jika pengurus sepak bola Indonesia berjanji untuk mengamankan talenta muda Indonesia. Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita melihat sistem kompetisi di negeri ini dulu yang mencerminkan ulah orang yang seharusnya mengurus sepak bola.  

Maklum, berbicara nasib para pemain muda sejatinya tidak pernah lepas dari langkah para pengurus sepak bola itu merancang sistem kompetisi yang sehat dan mumpuni. Selain ukiran prestasi timnas U-19, sudah banyak juga bukti negeri ini telah diberkahi anugerah oleh Tuhan dengan talenta-talenta sepak bola berlimpah.

Teranyar, lihat saja, bagaimana wakil Indonesia di Danone Cup 2013 sukses menduduki peringkat ke delapan dari total 32 peserta. Belum lagi melihat anak-anak muda berjuang mengharumkan nama bangsa di Gothia Cup 2013 yang sukses menempati posisi kedua di level usia U-14.

Masalahnya, mengapa bibit-bibit unggul itu selalu seperti tenggelam jika sudah meninggalkan status kelompok umur untuk beralih ke jenjang senior yang hingga kini masih miskin prestasi?

Sejenak, mari kita tengok kesuksesan para pemain muda Indonesia ketika mampu meraih Piala Asia Yunior pada 1962 serta kegemilangan mereka meraih tiga gelar Piala Pelajar Asia berturut-turut pada 1984, 1985, dan 1986.

Prestasi itu kemudian mampu berlanjut ke tingkat senior. Lihat saja bagaimana kehebatan Indonesia diakui oleh lawan-lawannya dalam turnamen Sea Games era 1980 hingga 1990-an. Medali emas turnamen terbesar se-Asia Tenggara itu pada 1987 dan 1991 pun berhasil digenggam tangan.

Sederet nama-nama besar seperti Ramang, Maulwi Saelan, Sutjipto Suntoro, Ronny Paslah, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Hery Kiswanto, Ricky Yacobi, dan sebagainya adalah bukti lainnya bahwa sepak bola Indonesia di level senior pernah ditakuti sejak 1950-an sampai awal 1990-an.

Namun, setelah emas terakhir di Manila, anomali prestasi terus menjamah kondisi sepak bola dalam negeri. Belum lagi, dengan adanya peleburan Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia (Ligina) pada 1994 yang dianggap seperti jalan pintas, entah disadari atau tidak oleh para pengurus ketika itu, justru telah menimbulkan masalah besar bagi Indonesia.

Mau bukti? Tengoklah kondisi sepak bola Indonesia sejak digulirkannya liga tersebut. Bermula ketika klub-klub Galatama perlahan disingkirkan karena dianggap tidak profesional setelah dinilai gagal membangun basis suporter hingga ketergantungan klub-klub Perserikatan dengan APBD serta pemilihan pengurus-pengurus klub yang umumnya bersifat birokratis dan tidak profesional.

Setelah itu, kompetisi sepak bola Indonesia seakan bertransformasi menjadi ladang basah bagi pihak-pihak yang ingin mengincar keuntungan sesaat. Regulasi kompetisi diubah-ubah sedemikian rupa. Perencanaan keuangan menjadi tidak transparan. Sepak bola pun lebih sering menjadi komoditas politik untuk mendongkrak kepentingan para politisi ketimbang ajang pertarungan sehat di dalam lapangan demi secercah prestasi.

Alhasil, dari berbagai masalah tersebut, praktik pengaturan skor, pembinaan usia muda yang relatif tidak terjamah, pembangunan fasiltas sepak bola seadanya terus mencederai khitah olahraga yang dicintai oleh ratusan juta masyarakat Indonesia ini. Belum lagi, munculnya dugaan praktik korupsi para mafia sepak bola serta pengaruh kepentingan pengusaha-pengusaha besar dalam pusaran konflik para pengurus.

Aroma kepentingan non-sepak bola ini sebenarnya sudah tercium sejak lama. Ketika Indonesia masuk final Piala AFF 2010, misalnya, banyak pihak termasuk partai politik, saling mengklaim sebagai pihak yang berjasa. Ada yang mengundang tim makan bareng sebelum turnamen usai, entah dengan tujuan apa.

Di sisi lain, permasalahan kemudian tak jarang berimbas ke lapangan. Berkelahi, mengumpat wasit, hingga perkelahian antarsuporter adalah potret buram kondisi di kompetisi Indonesia. Secara tidak langsung hal itu pun pada akhirnya bermuara kepada mental para pesepak bola senior Indonesia, yang terkadang untuk latihan fisik saja sudah mengeluh dengan alasan yang mengada-ngada.

DoaMelihat sejumlah fakta itu, rasanya pantas kita berpikir, di saat negara-negara Asia berlomba-lomba mengukir prestasi dengan kompetisi yang sehat dan mumpuni, Indonesia justru sempat mengalami sebuah kemunduran luar biasa karena ulah para pengurus sepak bola yang sudah mirip politisi ketimbang pamong olahraga sejati.

Prestasi sepak bola puluhan tahun lalu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati sejumlah pengurus yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Pengurus juga dapat merancang kompetisi sepak bola ke khitahnya sebagai tempat pengembangan sepak bola akar rumput.

Meskipun kini konflik antarpengurus sudah selesai. Itu belum berarti benang kusut sepak bola Indonesia sudah terurai. Perlu ada kebesaran hati dari para pengurus atau pemangku kepentingan sepak bola untuk membenahi sistem kompetisi yang dapat menjadi wadah para talenta-talenta muda Indonesia berkiprah. Kompetisi sehat yang tidak mengubah arti kata profesional menjadi salah kaprah.  

Salah kaprah yang terjadi karena buruknya kualitas kompetisi. Salah kaprah yang tercermin dari masih banyaknya pemain dan pelatih yang tidak digaji. Salah kaprah karena tidak ada upaya memberantas adanya praktik mafia serta membenahi buruknya kinerja perangkat pertandingan PSSI.

Padahal, jika program pembinaan kompetisi mampu menyinergikan perbaikan sejumlah masalah itu dengan fasilitas memadai, pendidikan karakter, dan visi ke depan untuk membenahi level tingkat umur, kebangkitan sepak bola bisa terus diraih. Kebangkitan sejatinya dapat dicapai dengan pembinaan panjang usia muda, bukan dari strategi para pengurus untuk mencari keuntungan pribadi semata.

Kini, anggap saja kesuksesan Evan Dimas dan kawan-kawan adalah jawaban Tuhan atas doa ratusan juta masyarakat Indonesia yang sudah sangat lama merindukan prestasi sepak bola. Anggap saja kesuksesan itu juga berasal dari keikhlasan seorang Indra Sjafri yang rela blusukan mencari bakat-bakat terpendam di seluruh pelosok negeri meski terkadang harus merogoh kocek sendiri.

Seluruh pengurus dan pemangku kepentingan sepak bola di negeri ini harus sadar betul, sudah lama sekali rakyat Indonesia tidak merasakan kenikmatan menyaksikan permainan cantik timnas di lapangan. Sudah lama sekali masyarakat tidak merasakan bulu kuduk berdiri melihat anak negeri menegakkan kepala sembari mengibarkan Merah Putih di podium kemenangan sepak bola.

Kerinduan itu memang sudah sedikit terobati dengan hasil peluh keringat generasi emas sepak bola Indonesia yang jatuh dari setiap tubuh para pemain skuad Garuda Jaya. Akan tetapi, semoga saja jerih payah 22 anak bangsa itu dapat dihargai dengan semestinya sehingga kilauan talenta emas mereka tidak kembali meredup di tengah gelap gulitanya kompetisi sepak bola Indonesia.

RD Benarkan Sudah Terima Tawaran dari Klub Malaysia

Source: http://www.vivanews.com

Soal Jatah Pemain Impor, Persib Tunggu Sikap PT Liga

VIVAbola – Persib Bandung sejauh ini masih menunggu tindak lanjut mengenai kuota pemain asing untuk Liga Super Indonesia (ISL) musim depan. Sebelumnya, PT Liga Indonesia selaku pengelola kompetisi  sempat mengungkapkan keinginnnya untuk membatasi peran pemain-pemain impor.

Sebelumnya, setiap klub ISL diperbolehkan memiliki lima pemain asing yang terdiri dari dua pemain Asia dan tiga non-Asia. PT Liga Indonesia, selaku regulator ISL, berencana memangkas kuota pemain impor tersebut.

Menurut PT LI, banyaknya pemain asing membuat pemain-pemain lokal kesulitan berkembang. Tim nasional menjadi kesulitan mencari amunisi-amunisi yang mumpuni di beberapa posisi penting.Komisaris PT PBB, Kuswara S Taryono, mengaku masih menunggu keputusan dari PT Liga Indonesia. “Masih kami matangkan sambil menunggu keputusan dari sana (PT Liga). Kami berharap bisa secepatnya. Karena ini penting juga, untuk persiapan tim menghadapi kompetisi nanti,” kata Kuswara.

Kuswara mengungkapkan, jika harus memilih, Persib lebih mendukung kuota tiga pemain asing plus satu pemain Asia.  Pertimbangannya karena frekuensi pertandingan pada kompetisi musim depan bakal lebih tinggi seiring dengan unifikasi Indonesia Super League dan Indonesia Premier League.Persib sendiri saat ini sudah membidik beberapa pemain untuk memperkuat skuad musim depan. Bek Persija Jakarta, Fabiano Beltrame, dan penyerang Barito Putera, Djibril Coulibaly, jadi nama yang santer diisukan.”Kalau harus dan boleh memilih, kami pilih kuota pemain asing yang lebih banyak. Banyak pertimbangannya, salah satunya karena frekuensi pertandingan musim depan lebih banyak,” ujar Kuswara.

Source: http://www.vivanews.com

Persib Bidik Bomber Haus Gol Barito Putera

Source: http://www.vivanews.com

PSSI Raup Rp3,2 Miliar dari Tiket Piala AFF U-19

VIVAbola - Penampilan gemilang Indonesia di Piala AFF U-19 telah membangkitkan animo masyarakat dalam memberikan dukungannya. Sekjen PSSI, Joko Driyono, bahkan kaget, angka penjualan tiket turnamen junior yang diikuti negara-negara Asia Tenggara itu mampu mencapai Rp3,2 Miliar.

Jumlah tersebut sebagian besar berasal dari pertandingan timnas Indonesia. Total, Evan Dimas dan kawan-kawan, menjalani tujuh pertandingan untuk mendapatkan gelar juara Piala AFF U-19 tahun ini.

“Pemasukan dari penjualan tiket mencapai Rp3,2 miliar. Kami sangat terkejut dengan animo dari masyarakat yang seperti ini. Terima kasih atas sambutan masyarakat Sidoarjo,” ungkap Sekretaris Jenderal PSSI, Joko Driyono.Kepala Bidang Bisnis dan Marketing PSSI, Edi Prasetya, menjelaskan, jumlah penonton Piala AFF U-19 mulai meningkat sejak Indonesia bertanding melawan Vietnam di penyisihan Grup B. “Jumlah (penonton) paling banyak itu adalah partai final. Lalu semifinal, disusul laga melawan Malaysia dan Vietnam di babak penyisihan,” ujarnya saat ditemui di kantor PSSI.Selain mendapatkan pemasukan dari tiket, PSSI juga menerima pendapatan dari AFF sebesar US$110.000, atau setara dengan Rp1,2 miliar. Sedangkan dari hak siar televisi pada babak penyisihan, PSSI mendapat pemasukan sebesar Rp750 juta dan masing-masing Rp1 miliar untuk semifinal dan final. 

Arema Indonesia Akan Tur ke Spanyol

Source: http://www.vivanews.com

Lawan Vietnam di Final, Misi Balas Dendam Indonesia

VIVAbola – Indonesia memastikan satu tempat di partai final Piala AFF U-19 2013 setelah menundukkan Timor Leste dengan skor 2-0 di babak semifinal Jumat malam kemarin. Selanjutnya, Indonesia akan melawan Vietnam di laga puncak.

Pertandingan ini menjadi ajang balas dendam Indonesia setelah dikalahkan Vietnam 1-2 di babak penyisihan. Karena kekalahan itulah, Indonesia harus melakoni laga hidup-mati melawan Malaysia di laga penyisihan terakhir.

Pelatih Indonesia, Indra Syafri, berharap Evan Dimas dan kawan-kawan bisa memetik pelajaran dari kekalahan mereka pada pertemuan pertama melawan Vietnam. Syafri juga menambahkan pihaknya masih mempelajari gaya permainan terbaru Vietnam.

“Belum ada strategi secara khusus melawan Vietnam. Saya masih harus mempelajari lagi permainan terbaru lawan. Yang pasti, kami tidak akan jatuh ke lubang yang sama,” kata Indra Syafri, Sabtu, 21 September 2013.

Kendati demikian, dia menilai jika permainan Vietnam pasti akan berubah. Menurut Indra, lawan kemungkinan akan bermain terbuka. “Ini karena laga nanti merupakan partai hidup mati. Jadi Vietnam pasti bermain terbuka,” jelasnya.

Sementara itu, Indra juga tidak terlalu khawatir dengan kondisi fisik anak-anak asuhnya usai menjalani laga berat melawan Timor Leste. “Anak-anak langsung menjalani terapi semalam. Rata-rata mereka hanya cedera ringan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ungkapnya.Indra menegaskan jika peak performance anak-anak asuhnya akan keluar besok malam. “Yang jadi kekurangan akan diperbaiki, salah satunya produktivitas. Tim ini dipersiapkan secara periodik,” kata mantan pemain PSP Padang ini. (kd) 

Arema Menang Tipis Atas Wakil Filipina

Source: http://www.vivanews.com

1 2 3 5